15 Tahun Melestarikan Warisan: Festival SAMBA ke-XV Resmi Ditutup Wabup H. Ansori

Umum43 Dilihat

Budaya Samawa Jadi Modal Masa Depan

 

FAKTANTB.ID, SUMBAWA BESAR | 28 September 2026

— Semangat melestarikan identitas tak pernah pudar di Kecamatan Plampang. Wakil Bupati Sumbawa, Drs. H. Mohamad Ansori, secara resmi menutup Festival SAMBA (Samawa Malanti Budaya) ke-XV pada Sabtu malam, 26 September 2026, di Lapangan Sepak Bola Maras Gamporo, Desa Sepakat.

 

Berlangsung selama sepekan penuh (19–26 September 2026), festival ini menjadi panggung kebanggaan yang diikuti ribuan warga dari berbagai kalangan — anak-anak TK/SD, pelajar SMP/SMA, organisasi pemuda, seniman, hingga masyarakat umum dari sejumlah desa di Plampang dan sekitarnya.

Momen Unggulan: Kesenian yang Tetap Hidup

Sepanjang rangkaian acara, panggung menyuguhkan kekayaan tradisi yang tak lekang waktu:

Sakeco,Tarian Kreasi ,Malangko

Melalui Festival SAMBA Masyarakat dari 11 Desa turun Jalan Pawai Budaya Menyuguhkan Budaya Lokal seperti;

– Nyorong — tarian syukur yang menampilkan kebersamaan warga

– Ngasak — atraksi kesenian rakyat yang penuh semangat

– Munit Ramai / Munit Adat — ekspresi syukur dan kebahagiaan yang telah mentradisi

– Turen Berang — pertunjukan seni yang mengangkat kearifan lokal

– Antat Ngaji — kegiatan keagamaan yang menyatukan masyarakat

– Junyung Pasaji / Dulang Pasaji — persembahan khas yang mengajarkan keindahan berbagi

– Pawai Budaya — barisan peserta dengan busana adat yang memukau sepanjang jalan dalam kota Kecamatan Plampang.

– Lomba Mewarnai Anak TK — melibatkan generasi paling muda sejak dini

Sambutan Wabup H. Ansori: Budaya Adalah Modal Masa Depan

Dalam pidato penutupannya, Wabup Ansori menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh panitia, peserta, dan masyarakat Plampang yang menjaga konsistensi pelaksanaan festival selama 15 tahun.

“Festival SAMBA sudah berusia 15 tahun. Ini bukan lagi hanya agenda tahunan, tetapi sudah menjadi bagian dari ingatan, identitas, dan kehidupan masyarakat Plampang,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa keterlibatan generasi muda di setiap penampilan membuktikan budaya Samawa memiliki penerus yang tangguh. Namun semangat ini tak boleh berhenti di sini:

“Budaya Samawa bukan sekadar warisan dari masa lalu. Budaya Samawa adalah modal kita untuk menyambut masa depan.”

Wabup berharap potensi budaya ini dikembangkan menjadi peluang ekonomi nyata — melalui pengembangan UMKM, kerajinan tenun/khas daerah, pariwisata budaya, dan kunjungan wisatawan ke Plampang.

Penutup: Terus Melangkah, Terus Mengakar

Dengan ditutupnya Festival SAMBA ke-XV, satu babak sejarah kebanggaan warga Plampang telah tertulis. Namun pesan yang ditinggalkan tetap hidup: melestarikan bukan berarti berhenti di masa lalu, melainkan mengakar kuat untuk melangkah lebih jauh ke masa depan.

Selamat kepada seluruh panitia, peserta, dan masyarakat Kecamatan Plampang. Sampai jumpa di Festival SAMBA ke-XVI! Budaya Samawa hidup di tangan kita.(FN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *